User
Write something
Melepaskan Anak, Melepaskan Inner child
Saat menjadi ibu, aku juga belajar “melepaskan.” Gak cuma melepaskan tangan kecil yang dulu selalu menggenggamku, tapi juga melepaskan ketakutan lama yg pernah kupeluk erat. Akram, anak laki-lakiku beranjak remaja. Ia sudah berani solo traveling. Tapi gak banyak yang tahu, keberanian itu lahir dari satu keputusan kecil bertahun-tahun lalu. Saat dia masih kelas 4 SD, aku menguatkan hati membiarkannya naik kereta jarak jauh sendirian (ke rumah Simbahnya). Sejak saat itu, suara-suara pun datang. “Tega banget ya…” “Masih kecil loh, kok dilepas sendirian?” “Kalau aku mah nggak tega.” “Anak laki-laki itu tetap anak, bahaya.” Aku hehe-in aja. Dan aku mendengar semuanya. Tapi tak ada yang tahu (sebelum kucerita ini), bahwa keputusan itu bukan soal tega atau gak tega. Ini tentang melawan ketakutanku sendiri. Aku pernah menjadi anak yang tak pernah diberi ruang mencoba. Aku pernah ada masa dibesarkan dengan kalimat, “Jangan jauh-jauh.” “Bahaya.” “Nanti kenapa-kenapa.” Dan tanpa sadar, aku hampir mewariskan rasa takut itu pada anakku. Hari itu aku duduk lama, berdialog dengan inner child-ku sendiri. Anak kecil di dalam diriku menangis, takut ditinggal, takut salah, takut dunia. Aku menggenggam luka itu, lalu berkata pelan: “Sekarang aku ibu.Aku aman.Dan anakku juga aman.” Aku melepas—bukan karena aku tega, tapi karena aku percaya. Percaya pada proses. Percaya pada anakku. Dan akhirnya… percaya pada diriku sendiri. Hari ini,anak laki-lakiku berjalan dengan langkah yakin, bermain dengan keberanian yang sehat. Dan aku belajar satu hal penting: yang perlu dilepasin bukan anak, tapi luka masa kecil diri sendiri.
DIANTARA GERAK DAN DIAM
Ada momen-momen yang tampak biasa, namun sebenarnya sedang bekerja diam-diam di dalam diri. Gerak kecil. Langkah yang tidak tergesa. Suara yang tidak meminta didengar, namun tetap hadir. Di sanalah hidup sering berbicara— bukan lewat kata, melainkan lewat jeda. Tubuh tahu kapan harus maju. Hati tahu kapan harus berhenti. Dan di antara keduanya, ada ruang sunyi tempat kita akhirnya bertemu diri sendiri. Tidak ada yang perlu dikejar. Tidak ada yang perlu dibuktikan. Cukup hadir. Menyadari napas. Menyadari rasa. Karena kadang, yang paling bergerak dalam hidup justru lahir dari keberanian untuk diam sejenak.
2
0
DIANTARA GERAK DAN DIAM
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
Si mamak ini menyadari nafasnya lalu menyadari sensasi hangat di dada, dan kemudian si mamak ini memilih marah. Si mamak ini mengizinkan dirinya untuk mengekspresikan marahnya di tempat umum, 10 menit yang lalu. Hari ini. Disclaimer. Si mamak menulis ini juga merupakan salah satu upaya meregulasi marahnya si mamak setelah mengizinkannya "meledak". Dan tidak ada diskriminasi gender dan jenis kelamin di sini. Mau tau kekmana ceritanya? Beginilah panjangnya kura kura: Hal sederhana yang tidak sederhana buat si mamak ini adalah memaklumi bahwa tidak semua orang paham antri. Kekmana harus maklum? Nggak benar itu. Masak hal sepele tentang antri harus dikasih paham dulu? Aih. Memang, masalah akan jadi masalah bila dipermasalahkan dan si mamak ini izinkan masalah ini benar benar menjadi masalah yang perlu di-notice di ruang publik, di tempat si mamak berdiri hari ini. Sekarang. Dulu, kura kura sebelum Covid. Si mamak ini pernah lakukan eksperimen sosial dengan sengaja menaruh si bocil–sulungnya si mamak waktu itu masih kelas 1 SD–dalam antrian pembayaran kasir minimarket. Waktu itu, si mamak sengaja berdiri jauh-jauh. Pertama, tentu bertujuan untuk ngajarin bocil disiplin "antri" sejak dini. Kedua, untuk membuktikan stigma: orang-orang di luar sana, khususnya buibu suka "cut the line" di setiap ada kesempatan. Eh bener dong, si bocil mamak diserobot. jadilah si mamak ini HULK mode on. Nyaris dilumatnya buibu itu. Tega kali sama bocil. Mungkin dipikirnya si bocil itu nggak ada mamaknya. NAH, BARUSAN TADI.... after years, si mamak ini antri di minimarket. Lama kali berdiri menanti karena antriannya panjang. Lah dengan santainya tiba-tiba ada buibu baju kuning nyempilin anaknya di depan si mamak. Si kuning itu berlenggang milih jajanan di kasir sambil bilang ke balitanya–kura-kura usia TK lah dia tuh–"udah kamu tetep di situ, jangan mundur, maju aja". Si kuning itu ngomong begitu ke bocilnya ketika melihat si mamak berusaha maju mempertahankan posisi antriannya. Ok, si mamak ini mulai mendidih kan.. disadarilah nafasnya yang mulai menderu makin kencang macam blower ya kan. Dan si mamak ini tanya pun ke dirinya sendiri "perlu nggak marahnya dikeluarin?"
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
Remaja Cowok Selalu Membantah?
"Kenapa sih anak laki-lakiku selalu membantah? Kalau dinasihati malah melawan, dimarahi justru balik marah. Seolah-olah dia selalu tahu cara menekan tombol emosiku sampai aku berakhir ngomel panjang.” Menariknya, aku justru mendengar cerita yang sangat berbeda. Dari teman-teman sekolahnya, dari guru-gurunya. Mereka bilang anakku ramah, sopan, temannya banyak, suka membantu, dan hormat pada guru. Ia dikenal baik di lingkungan sekolah—versi dirinya yang jarang kulihat di rumah. Di saat yang sama, aku sering mendengar cerita dari teman: tentang anak lelaki mereka yang manis, lembut, dekat dengan ibu, penuh empati, dan menyenangkan. Tanpa sadar, aku membandingkan. Dan diam-diam bertanya, kenapa anakku tidak seperti itu? Semua ini berlangsung cukup lama, tepat ketika ia memasuki masa pubertas. Awalnya, yang kurasakan adalah rasa terancam. Aku takut kehilangan posisiku sebagai ibu. Takut ia melihatku sebagai rival. Takut ia tidak lagi menyayangiku. Takut suatu hari ia tumbuh menjadi anak yang benar-benar pembangkang. Pertengkaran kami sering kali berawal dari hal sepele, namun rasanya melelahkan. Aku hampir menyerah dengan label “anak remaja yang sulit”. Sampai suatu hari, aku memilih duduk diam. Sendiri. Bukan untuk memikirkan dia—melainkan untuk menengok diriku sendiri. Aku kembali pada diriku yang kecil. Mengingat bagaimana sikapku saat seusianya dulu. Dan di sanalah aku tersadar: banyak dari sifat yang kini kuanggap menyebalkan, ternyata dulu juga ada dalam diriku. Sejak saat itu, pelan-pelan, triger dan ego di dalam diriku mulai mereda. Lalu datang satu kesadaran paling ringan, paling menenangkan: Oh… ternyata aku sedang dijadikan ruang aman. Di rumah, bersamaku, ia berani menjadi dirinya sendiri. Ia bisa menjadi anak yang baik, membantu, menyayangi adiknya. Dan di waktu yang sama, ia juga merasa aman untuk mengekspresikan rasa kesalnya, kemarahannya, bahkan teriakannya. Ia berani menunjukkan semua itu karena ia tahu satu hal: aku akan tetap menerimanya, aku akan tetap menyayanginya.
Semakin Menginginkan Semakin Tertekan
kamu tidak mematikan keinginan. Kamu membuatnya berhenti menyakiti.
4
0
Semakin Menginginkan Semakin Tertekan
1-28 of 28
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.