Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

59 members • Free

3 contributions to BerkembangBersama
Melepaskan Anak, Melepaskan Inner child
Saat menjadi ibu, aku juga belajar “melepaskan.” Gak cuma melepaskan tangan kecil yang dulu selalu menggenggamku, tapi juga melepaskan ketakutan lama yg pernah kupeluk erat. Akram, anak laki-lakiku beranjak remaja. Ia sudah berani solo traveling. Tapi gak banyak yang tahu, keberanian itu lahir dari satu keputusan kecil bertahun-tahun lalu. Saat dia masih kelas 4 SD, aku menguatkan hati membiarkannya naik kereta jarak jauh sendirian (ke rumah Simbahnya). Sejak saat itu, suara-suara pun datang. “Tega banget ya…” “Masih kecil loh, kok dilepas sendirian?” “Kalau aku mah nggak tega.” “Anak laki-laki itu tetap anak, bahaya.” Aku hehe-in aja. Dan aku mendengar semuanya. Tapi tak ada yang tahu (sebelum kucerita ini), bahwa keputusan itu bukan soal tega atau gak tega. Ini tentang melawan ketakutanku sendiri. Aku pernah menjadi anak yang tak pernah diberi ruang mencoba. Aku pernah ada masa dibesarkan dengan kalimat, “Jangan jauh-jauh.” “Bahaya.” “Nanti kenapa-kenapa.” Dan tanpa sadar, aku hampir mewariskan rasa takut itu pada anakku. Hari itu aku duduk lama, berdialog dengan inner child-ku sendiri. Anak kecil di dalam diriku menangis, takut ditinggal, takut salah, takut dunia. Aku menggenggam luka itu, lalu berkata pelan: “Sekarang aku ibu.Aku aman.Dan anakku juga aman.” Aku melepas—bukan karena aku tega, tapi karena aku percaya. Percaya pada proses. Percaya pada anakku. Dan akhirnya… percaya pada diriku sendiri. Hari ini,anak laki-lakiku berjalan dengan langkah yakin, bermain dengan keberanian yang sehat. Dan aku belajar satu hal penting: yang perlu dilepasin bukan anak, tapi luka masa kecil diri sendiri.
0 likes • 1d
@Lia Anggraeni 🤗🤗
Remaja Cowok Selalu Membantah?
"Kenapa sih anak laki-lakiku selalu membantah? Kalau dinasihati malah melawan, dimarahi justru balik marah. Seolah-olah dia selalu tahu cara menekan tombol emosiku sampai aku berakhir ngomel panjang.” Menariknya, aku justru mendengar cerita yang sangat berbeda. Dari teman-teman sekolahnya, dari guru-gurunya. Mereka bilang anakku ramah, sopan, temannya banyak, suka membantu, dan hormat pada guru. Ia dikenal baik di lingkungan sekolah—versi dirinya yang jarang kulihat di rumah. Di saat yang sama, aku sering mendengar cerita dari teman: tentang anak lelaki mereka yang manis, lembut, dekat dengan ibu, penuh empati, dan menyenangkan. Tanpa sadar, aku membandingkan. Dan diam-diam bertanya, kenapa anakku tidak seperti itu? Semua ini berlangsung cukup lama, tepat ketika ia memasuki masa pubertas. Awalnya, yang kurasakan adalah rasa terancam. Aku takut kehilangan posisiku sebagai ibu. Takut ia melihatku sebagai rival. Takut ia tidak lagi menyayangiku. Takut suatu hari ia tumbuh menjadi anak yang benar-benar pembangkang. Pertengkaran kami sering kali berawal dari hal sepele, namun rasanya melelahkan. Aku hampir menyerah dengan label “anak remaja yang sulit”. Sampai suatu hari, aku memilih duduk diam. Sendiri. Bukan untuk memikirkan dia—melainkan untuk menengok diriku sendiri. Aku kembali pada diriku yang kecil. Mengingat bagaimana sikapku saat seusianya dulu. Dan di sanalah aku tersadar: banyak dari sifat yang kini kuanggap menyebalkan, ternyata dulu juga ada dalam diriku. Sejak saat itu, pelan-pelan, triger dan ego di dalam diriku mulai mereda. Lalu datang satu kesadaran paling ringan, paling menenangkan: Oh… ternyata aku sedang dijadikan ruang aman. Di rumah, bersamaku, ia berani menjadi dirinya sendiri. Ia bisa menjadi anak yang baik, membantu, menyayangi adiknya. Dan di waktu yang sama, ia juga merasa aman untuk mengekspresikan rasa kesalnya, kemarahannya, bahkan teriakannya. Ia berani menunjukkan semua itu karena ia tahu satu hal: aku akan tetap menerimanya, aku akan tetap menyayanginya.
0 likes • 18d
@Charis Dewayu mari berpelukan mamak2
0 likes • 4d
@Sri Kuswayati sama-sama, Mi
Kenapa Skool?
Karena pembahasan seperti mental health spiritual atau produktivitas, kadang membutuhkan penjelasan yang mendalam. Agar bisa langsung praktek, bisa lebih tenang, dan tentunya semakin bersenang senang.
Kenapa Skool?
0 likes • 19d
Ikut antusias dg adanya Berkembang Bersama di Skool. Seru jadi belajar hal baru lagi. Let's have fun!
1-3 of 3
Uwien Budi
2
7points to level up
@uwien-budi-7405
Blogger uwienbudi.com | Suka Motret | BCR head&body practitioner | HanaBusyBook

Active 1d ago
Joined Jan 16, 2026