Saat menjadi ibu, aku juga belajar “melepaskan.”
Gak cuma melepaskan tangan kecil yang dulu selalu menggenggamku, tapi juga melepaskan ketakutan lama yg pernah kupeluk erat.
Akram, anak laki-lakiku beranjak remaja.
Ia sudah berani solo traveling.
Tapi gak banyak yang tahu, keberanian itu lahir dari satu keputusan kecil bertahun-tahun lalu.
Saat dia masih kelas 4 SD, aku menguatkan hati membiarkannya naik kereta jarak jauh sendirian (ke rumah Simbahnya).
Sejak saat itu, suara-suara pun datang.
“Tega banget ya…”
“Masih kecil loh, kok dilepas sendirian?”
“Kalau aku mah nggak tega.”
“Anak laki-laki itu tetap anak, bahaya.”
Aku hehe-in aja. Dan aku mendengar semuanya.
Tapi tak ada yang tahu (sebelum kucerita ini), bahwa keputusan itu bukan soal tega atau gak tega. Ini tentang melawan ketakutanku sendiri.
Aku pernah menjadi anak yang tak pernah diberi ruang mencoba. Aku pernah ada masa dibesarkan dengan kalimat,
“Jangan jauh-jauh.”
“Bahaya.”
“Nanti kenapa-kenapa.”
Dan tanpa sadar, aku hampir mewariskan rasa takut itu pada anakku.
Hari itu aku duduk lama,
berdialog dengan inner child-ku sendiri.
Anak kecil di dalam diriku menangis,
takut ditinggal, takut salah, takut dunia.
Aku menggenggam luka itu,
lalu berkata pelan:
“Sekarang aku ibu.Aku aman.Dan anakku juga aman.”
Aku melepas—bukan karena aku tega,
tapi karena aku percaya.
Percaya pada proses.
Percaya pada anakku.
Dan akhirnya… percaya pada diriku sendiri.
Hari ini,anak laki-lakiku berjalan dengan langkah yakin, bermain dengan keberanian yang sehat.
Dan aku belajar satu hal penting: yang perlu dilepasin bukan anak,
tapi luka masa kecil diri sendiri.