Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

59 members • Free

10 contributions to BerkembangBersama
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
Si mamak ini menyadari nafasnya lalu menyadari sensasi hangat di dada, dan kemudian si mamak ini memilih marah. Si mamak ini mengizinkan dirinya untuk mengekspresikan marahnya di tempat umum, 10 menit yang lalu. Hari ini. Disclaimer. Si mamak menulis ini juga merupakan salah satu upaya meregulasi marahnya si mamak setelah mengizinkannya "meledak". Dan tidak ada diskriminasi gender dan jenis kelamin di sini. Mau tau kekmana ceritanya? Beginilah panjangnya kura kura: Hal sederhana yang tidak sederhana buat si mamak ini adalah memaklumi bahwa tidak semua orang paham antri. Kekmana harus maklum? Nggak benar itu. Masak hal sepele tentang antri harus dikasih paham dulu? Aih. Memang, masalah akan jadi masalah bila dipermasalahkan dan si mamak ini izinkan masalah ini benar benar menjadi masalah yang perlu di-notice di ruang publik, di tempat si mamak berdiri hari ini. Sekarang. Dulu, kura kura sebelum Covid. Si mamak ini pernah lakukan eksperimen sosial dengan sengaja menaruh si bocil–sulungnya si mamak waktu itu masih kelas 1 SD–dalam antrian pembayaran kasir minimarket. Waktu itu, si mamak sengaja berdiri jauh-jauh. Pertama, tentu bertujuan untuk ngajarin bocil disiplin "antri" sejak dini. Kedua, untuk membuktikan stigma: orang-orang di luar sana, khususnya buibu suka "cut the line" di setiap ada kesempatan. Eh bener dong, si bocil mamak diserobot. jadilah si mamak ini HULK mode on. Nyaris dilumatnya buibu itu. Tega kali sama bocil. Mungkin dipikirnya si bocil itu nggak ada mamaknya. NAH, BARUSAN TADI.... after years, si mamak ini antri di minimarket. Lama kali berdiri menanti karena antriannya panjang. Lah dengan santainya tiba-tiba ada buibu baju kuning nyempilin anaknya di depan si mamak. Si kuning itu berlenggang milih jajanan di kasir sambil bilang ke balitanya–kura-kura usia TK lah dia tuh–"udah kamu tetep di situ, jangan mundur, maju aja". Si kuning itu ngomong begitu ke bocilnya ketika melihat si mamak berusaha maju mempertahankan posisi antriannya. Ok, si mamak ini mulai mendidih kan.. disadarilah nafasnya yang mulai menderu makin kencang macam blower ya kan. Dan si mamak ini tanya pun ke dirinya sendiri "perlu nggak marahnya dikeluarin?"
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
Bukan Tanggung Jawab ANDA
Pernah begini? Kamu menahan capek supaya suasana tetap enak. Menyesuaikan kata. Menjaga perasaan. Takut kalau mereka kecewa. Dan entah kenapa, kamu yang paling lelah. Sebentar. Coba ingat satu momen terakhir saat seseorang benar-benar bahagia. Apakah itu karena kamu yang membuat? Atau karena mereka sendiri memilih bahagia? Biasanya, yang kedua. Nikmati rasa ringan yang muncul. Akibat dari kesadaran ini.. Di sini, kita tidak belajar membuat orang lain bahagia.. Disini Kita melihat apa yang terjadi : saat kamu berhenti bertanggung jawab akan bahagia orang..
Bukan Tanggung Jawab ANDA
1 like • 8d
A Woman with No Filter ada Bia yang seperti ini sampai kemudian dia sakit. Haha, saya dulu juga pernah di versi Bia yg itu. Empet. Thank you untuk masa masa itu .. Thank you Pak Rahmat.
Saat khawatir soal uang muncul
Ketika pikiran berkata: “Aku harus aman secara finansial.” Sadari: kekhawatiran itu bukan tentang uang. Itu tentang tubuh yang merasa tidak aman. Jangan langsung cari solusi. Saat rasa khawatir muncul, katakan ke diri : “Aku mendengarmu, kamu sedang takut. Aku di sini bersamamu” Diam 30 detik. Rasakan sensasi tubuh. Nikmati turun nya stress dan naiknya ide kreativitas. Keputusan finansial, seperti investasi, dsb akan di ambil dari kondisi yang lebih jernih Bukan dari ketakutan
Saat khawatir soal uang muncul
0 likes • 8d
Ini menarik Pak Rahmat, yang muncul di saya kemarin tentang uang dan kemapanan finansial itu justru saat bayar gojek. Saya biasa bilang, "Ambil aja kembaliannya, Pak" Dan anehnya malam itu ketika saya suruh babang gojek ambil kembalian 1500 itu ada sensasi berat. Bukan ndak ikhlas. Beda aja. By question saya nanya ke diri saya ada apa, dan apa yang perlu saya pahami, dan mulai deh kebuka sisi diri yang nggak disangka selama ini ada. Kebiasaan suruh ambil kembalian itu saya pikir tadinya adalah bentuk keramahan dan "berbagi rejeki" tapi ternyata ada shadow di situ, yang ketika menyadarinya saya tertempelak. Shadownya adalah: Saya tidak menghargai uang kecil. Ibaratnya, gimana selalu mau uang besar kalau dari benih yang kecil aja nggak ada respect. Ini yang bikin kadang ada selip di bagian money management alias ngatur dan kelola duit. Dan awal 2024 (tahun baru) pesennya tuh yang muncul di saya: Hargai hal-hal kecil. Lha baru ngeh di 2026, dan ternyata pesan itu juga termasuk pada bagaimana saya memperlakukan uang. Thank you Pak Rahmat. Mamaciiiiiiii...
Kadang yang Manis itu Bikin Nangis
Masa lalu itu bagiku ibarat permen Nano-Nano yang rame rasanya. Ya orang-orangnya, ya kisah atau peristiwanya. Ada momen yang berjalan mulus, ada juga yang berat. Ada sosok-sosok yang menghadirkan luka dan membuatku paham rasanya kecewa, ada pula yang hadir seperti gula-gula penuh warna tapi manisnya menyesatkan dan memaksaku belajar artinya ditinggalkan. Semua itu membentuk caraku melihat hidup hari ini. Apa yang pahit belum tentu bikin sakit, dan apa yang manis kadang justru bikin nangis. Seolah, tidak ada formula yang pas untuk menakar "rasa" kehidupan. Oleh karenanya, aku berterima kasih pada semua yang sudah terjadi di belakangku. Bukan karena semuanya indah, tapi karena semuanya nyata. Aku juga berterima kasih pada orang-orang yang hadir tanpa rencana. Mereka datang tidak selalu dengan peran besar. Sebagian hanya lewat, sebagian tinggal lebih lama. Tapi kehadiran mereka memberi ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk merasa aman. Ruang untuk menjadi diriku sendiri tanpa harus menjelaskan segalanya. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Untuk memilih bertahan saat hati ingin menyerah. Untuk tetap berjalan meski sering ragu. Untuk terus memilih sadar, walau lelah. Untuk terus memilih hidup, walau sempat ingin mati. Aku tidak selalu benar, tapi aku tetap melangkah. Dan itu cukup.
4
0
Kadang yang Manis itu Bikin Nangis
Bantalan Sandal
Jadi ceritanya, hari ini si tante lagi belajar sama bocil yang seusia SMP gitu lah ya.. Kadang di usia tante-tante ini (aku) masih mikir "pendapat dan omongan" orang untuk sekedar melakukan hal-hal sederhana. Bahkan hal-hal yang kaitannya sama kenyamanan diri sendiri. Lalu di sebuah angkringan tempat si tante berteduh dari hujan badai, si bocil dan kawanannya ini mengajarkan si tante tentang: TAKE IT EASY! Simple aja momen-nya, visual si tante menangkap pemandangan si bocil bantalan sandal untuk bersantai. Naruh sandal kotornya di kepala. Sebuah upaya membuat nyaman diri sendiri tanpa perlu mikir: "Ntar dilihat orang gimana?" atau "Itu kan kotor?" Semacam si bocil tuh in my point of view bisa BODO AMAT. Ya iya sih, kadang si tante bisa ovt buat hal-hal sederhana. Dan si tante ini bilang to her self: "You’ve been working too hard. Take it easy." Haha.. thank you bocil! You're so chill!
Bantalan Sandal
0 likes • 11d
@Dwi Sunaryati hahahaha... dan hari ini si tante mainan ikan sambil huja hujan
1-10 of 10
Charis Dewayu
3
33points to level up
@charis-dewayu-3857
Walking with you. Reach me here: ruangbicara@charisdewayu.org

Active 2d ago
Joined Jan 15, 2026