Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

59 members • Free

11 contributions to BerkembangBersama
DIANTARA GERAK DAN DIAM
Ada momen-momen yang tampak biasa, namun sebenarnya sedang bekerja diam-diam di dalam diri. Gerak kecil. Langkah yang tidak tergesa. Suara yang tidak meminta didengar, namun tetap hadir. Di sanalah hidup sering berbicara— bukan lewat kata, melainkan lewat jeda. Tubuh tahu kapan harus maju. Hati tahu kapan harus berhenti. Dan di antara keduanya, ada ruang sunyi tempat kita akhirnya bertemu diri sendiri. Tidak ada yang perlu dikejar. Tidak ada yang perlu dibuktikan. Cukup hadir. Menyadari napas. Menyadari rasa. Karena kadang, yang paling bergerak dalam hidup justru lahir dari keberanian untuk diam sejenak.
2
0
DIANTARA GERAK DAN DIAM
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
Si mamak ini menyadari nafasnya lalu menyadari sensasi hangat di dada, dan kemudian si mamak ini memilih marah. Si mamak ini mengizinkan dirinya untuk mengekspresikan marahnya di tempat umum, 10 menit yang lalu. Hari ini. Disclaimer. Si mamak menulis ini juga merupakan salah satu upaya meregulasi marahnya si mamak setelah mengizinkannya "meledak". Dan tidak ada diskriminasi gender dan jenis kelamin di sini. Mau tau kekmana ceritanya? Beginilah panjangnya kura kura: Hal sederhana yang tidak sederhana buat si mamak ini adalah memaklumi bahwa tidak semua orang paham antri. Kekmana harus maklum? Nggak benar itu. Masak hal sepele tentang antri harus dikasih paham dulu? Aih. Memang, masalah akan jadi masalah bila dipermasalahkan dan si mamak ini izinkan masalah ini benar benar menjadi masalah yang perlu di-notice di ruang publik, di tempat si mamak berdiri hari ini. Sekarang. Dulu, kura kura sebelum Covid. Si mamak ini pernah lakukan eksperimen sosial dengan sengaja menaruh si bocil–sulungnya si mamak waktu itu masih kelas 1 SD–dalam antrian pembayaran kasir minimarket. Waktu itu, si mamak sengaja berdiri jauh-jauh. Pertama, tentu bertujuan untuk ngajarin bocil disiplin "antri" sejak dini. Kedua, untuk membuktikan stigma: orang-orang di luar sana, khususnya buibu suka "cut the line" di setiap ada kesempatan. Eh bener dong, si bocil mamak diserobot. jadilah si mamak ini HULK mode on. Nyaris dilumatnya buibu itu. Tega kali sama bocil. Mungkin dipikirnya si bocil itu nggak ada mamaknya. NAH, BARUSAN TADI.... after years, si mamak ini antri di minimarket. Lama kali berdiri menanti karena antriannya panjang. Lah dengan santainya tiba-tiba ada buibu baju kuning nyempilin anaknya di depan si mamak. Si kuning itu berlenggang milih jajanan di kasir sambil bilang ke balitanya–kura-kura usia TK lah dia tuh–"udah kamu tetep di situ, jangan mundur, maju aja". Si kuning itu ngomong begitu ke bocilnya ketika melihat si mamak berusaha maju mempertahankan posisi antriannya. Ok, si mamak ini mulai mendidih kan.. disadarilah nafasnya yang mulai menderu makin kencang macam blower ya kan. Dan si mamak ini tanya pun ke dirinya sendiri "perlu nggak marahnya dikeluarin?"
TIDAK SEMUA ORANG PAHAM ANTRI
0 likes • 3d
Wah seru nih
Awal Perjalanan
Pagi itu bandara belum sepenuhnya bangun. Langit masih ragu antara gelap dan terang, seperti seseorang yang berdiri di ambang keputusan besar. Pesawat terbang terparkir tenang, bukan lelah—hanya menunggu. Tangga besi berdiri kaku di sisi gedung, seolah menjadi saksi ribuan langkah yang pernah naik dengan harapan berbeda-beda: pulang, pergi, melarikan diri, atau menemukan diri sendiri. Di balik kaca jendela, seseorang duduk diam. Bukan karena takut terbang, melainkan karena sedang mendengar sesuatu yang jarang didengar di tempat seperti ini: dirinya sendiri. Mesin belum menyala. Namun di dalam dada, ada pergerakan halus—seperti roda yang mulai berputar pelan. Ia sadar, perjalanan tidak selalu dimulai saat pesawat lepas landas, kadang dimulai jauh sebelumnya, saat kita berani berhenti sejenak. Garis-garis merah di landasan mengingatkan: ada batas, ada arah. Bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga agar setiap pergerakan tetap sadar. Saat matahari akhirnya menyentuh badan pesawat, cahaya memantul lembut. Bukan gemerlap. Hanya cukup untuk berkata: waktunya. Dan ketika pengumuman boarding terdengar, ia tersenyum kecil. Bukan karena tahu ke mana ia akan tiba, melainkan karena ia tahu: kali ini, ia benar-benar hadir di setiap langkah perjalanan.
2
0
Awal Perjalanan
Mengikuti Isyarat yang Sunyi
Di pagi yang tampak tenang itu, air seperti kaca—memantulkan langit biru dan ingatan yang belum selesai. Kapal besar berlabuh diam, tubuhnya menyimpan kisah pelaut, doa-doa yang pernah diucap di tengah badai, dan arah yang dulu ditentukan oleh bintang. Tiangnya menjulang, bukan untuk berlayar hari ini, melainkan untuk mengingatkan: ada masa ketika keberanian berarti berangkat tanpa kepastian. Di sisi lain, perahu kecil melaju pelan, meninggalkan riak tipis di belakangnya. Dua orang duduk berdampingan, tak tergesa. Mereka tak membawa peta besar, hanya tujuan sederhana—menyeberang. Mesin kecil berdengung lirih, seperti napas yang dijaga agar tetap sadar. Di kejauhan, gedung-gedung berdiri tegak, simbol waktu kini: cepat, tinggi, dan penuh layar. Namun air di antara mereka menyatukan segalanya—masa lalu, masa kini, dan niat yang sedang bergerak. Pagi itu tidak menawarkan jawaban besar. Ia hanya mengajukan satu bisikan halus: kadang hidup bukan soal kapal megah atau perahu sederhana, melainkan keberanian untuk tetap bergerak, tenang, sadar, dan setia pada arah hati (intuisi).
3
0
Mengikuti Isyarat yang Sunyi
Hadir
Ia duduk di tepi kolam, air yang dingin dan tenang. Dari luar, semuanya tampak sederhana—sepasang kaki, lantai merah, air jernih. Tak ada yang istimewa. Setidaknya begitu yang terlihat. Di hadapannya ada satu pertanyaan:“Apa yang tidak terlihat olehku?” Ia tersenyum kecil. Pertanyaan itu terasa seperti bercermin, tapi tanpa bayangan. Selama ini ia mengira sudah melihat segalanya: kerja keras, lelah yang ditahan, keputusan yang diambil dengan kepala tegak. Ia melihat proses, kegagalan, jatuh-bangun. Namun air di kolam itu memantulkan sesuatu yang lain—ketenangan yang tak pernah ia akui. Satu kata sederhana:“Sukses.” Ia terdiam.Bukan gemuruh tepuk tangan. Bukan pencapaian yang diumumkan. Bukan validasi dari luar. Sukses itu ternyata sedang duduk bersamanya di tepi kolam. Dalam napas yang akhirnya melambat. Dalam keberanian untuk berhenti sejenak tanpa rasa bersalah. Dalam kesadaran bahwa ia masih ada—utuh—meski tak sedang berlari. Yang tidak terlihat olehnya selama ini bukanlah tujuan di depan, melainkan jarak yang telah ia tempuh. Air beriak pelan saat kakinya bergerak.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya ke mana harus pergi. Ia hanya hadir. Dan itu—tanpa ia sadari—adalah bentuk sukses yang paling sunyi, namun paling jujur.
4
0
Hadir
1-10 of 11
Samuel Adi Nugroho
3
33points to level up
@samuel-adi-nugroho-6888
Body Communication Resonance Head Facilitator

Active 13h ago
Joined Jan 15, 2026