"Kenapa sih anak laki-lakiku selalu membantah? Kalau dinasihati malah melawan, dimarahi justru balik marah.
Seolah-olah dia selalu tahu cara menekan tombol emosiku sampai aku berakhir ngomel panjang.”
Menariknya, aku justru mendengar cerita yang sangat berbeda. Dari teman-teman sekolahnya, dari guru-gurunya. Mereka bilang anakku ramah, sopan, temannya banyak, suka membantu, dan hormat pada guru.
Ia dikenal baik di lingkungan sekolah—versi dirinya yang jarang kulihat di rumah.
Di saat yang sama, aku sering mendengar cerita dari teman: tentang anak lelaki mereka yang manis, lembut, dekat dengan ibu, penuh empati, dan menyenangkan.
Tanpa sadar, aku membandingkan.
Dan diam-diam bertanya, kenapa anakku tidak seperti itu?
Semua ini berlangsung cukup lama, tepat ketika ia memasuki masa pubertas. Awalnya, yang kurasakan adalah rasa terancam.
Aku takut kehilangan posisiku sebagai ibu.
Takut ia melihatku sebagai rival.
Takut ia tidak lagi menyayangiku.
Takut suatu hari ia tumbuh menjadi anak yang benar-benar pembangkang.
Pertengkaran kami sering kali berawal dari hal sepele, namun rasanya melelahkan.
Aku hampir menyerah dengan label “anak remaja yang sulit”.
Sampai suatu hari, aku memilih duduk diam. Sendiri.
Bukan untuk memikirkan dia—melainkan untuk menengok diriku sendiri.
Aku kembali pada diriku yang kecil. Mengingat bagaimana sikapku saat seusianya dulu.
Dan di sanalah aku tersadar:
banyak dari sifat yang kini kuanggap menyebalkan, ternyata dulu juga ada dalam diriku.
Sejak saat itu, pelan-pelan, triger dan ego di dalam diriku mulai mereda.
Lalu datang satu kesadaran paling ringan, paling menenangkan:
Oh… ternyata aku sedang dijadikan ruang aman.
Di rumah, bersamaku, ia berani menjadi dirinya sendiri. Ia bisa menjadi anak yang baik, membantu, menyayangi adiknya. Dan di waktu yang sama, ia juga merasa aman untuk mengekspresikan rasa kesalnya, kemarahannya, bahkan teriakannya.
Ia berani menunjukkan semua itu karena ia tahu satu hal:
aku akan tetap menerimanya,
aku akan tetap menyayanginya.
Dan di titik itu, aku menyadari:
tidak semua perlawanan adalah penolakan.
Kadang, itu justru tanda kepercayaan terdalam dari seorang anak kepada ibunya.