Si mamak ini menyadari nafasnya lalu menyadari sensasi hangat di dada, dan kemudian si mamak ini memilih marah. Si mamak ini mengizinkan dirinya untuk mengekspresikan marahnya di tempat umum, 10 menit yang lalu. Hari ini.
Disclaimer. Si mamak menulis ini juga merupakan salah satu upaya meregulasi marahnya si mamak setelah mengizinkannya "meledak". Dan tidak ada diskriminasi gender dan jenis kelamin di sini.
Mau tau kekmana ceritanya? Beginilah panjangnya kura kura:
Hal sederhana yang tidak sederhana buat si mamak ini adalah memaklumi bahwa tidak semua orang paham antri. Kekmana harus maklum? Nggak benar itu. Masak hal sepele tentang antri harus dikasih paham dulu? Aih.
Memang, masalah akan jadi masalah bila dipermasalahkan dan si mamak ini izinkan masalah ini benar benar menjadi masalah yang perlu di-notice di ruang publik, di tempat si mamak berdiri hari ini. Sekarang.
Dulu, kura kura sebelum Covid. Si mamak ini pernah lakukan eksperimen sosial dengan sengaja menaruh si bocil–sulungnya si mamak waktu itu masih kelas 1 SD–dalam antrian pembayaran kasir minimarket. Waktu itu, si mamak sengaja berdiri jauh-jauh. Pertama, tentu bertujuan untuk ngajarin bocil disiplin "antri" sejak dini. Kedua, untuk membuktikan stigma: orang-orang di luar sana, khususnya buibu suka "cut the line" di setiap ada kesempatan.
Eh bener dong, si bocil mamak diserobot. jadilah si mamak ini HULK mode on. Nyaris dilumatnya buibu itu. Tega kali sama bocil. Mungkin dipikirnya si bocil itu nggak ada mamaknya.
NAH, BARUSAN TADI.... after years, si mamak ini antri di minimarket. Lama kali berdiri menanti karena antriannya panjang. Lah dengan santainya tiba-tiba ada buibu baju kuning nyempilin anaknya di depan si mamak. Si kuning itu berlenggang milih jajanan di kasir sambil bilang ke balitanya–kura-kura usia TK lah dia tuh–"udah kamu tetep di situ, jangan mundur, maju aja". Si kuning itu ngomong begitu ke bocilnya ketika melihat si mamak berusaha maju mempertahankan posisi antriannya.
Ok, si mamak ini mulai mendidih kan.. disadarilah nafasnya yang mulai menderu makin kencang macam blower ya kan. Dan si mamak ini tanya pun ke dirinya sendiri "perlu nggak marahnya dikeluarin?"
Lalu si mamak ini memilih mengalah dan pindah ke baris antrian sebelah yang lebih pendek. Tinggal satu orang aja tuh. Nah pas si mamak geser pindah itu nah, baris yang si mamak tinggalkan tadi juga sudah kosong–orang yang di depan si bocil yang disempilin tadi udah selesai transaksi. Uniknya begitu si kuning maju bareng anaknya, sama kasir dicuekin dan si mamak ini dikode buat bayar dulu di antiran sebelumnya, mendahului si kuning karena di antrian yang si mamak pindah itu masih ada satu orang tuh belum selesai. Tampaknya si Kasir peka melihat pergolakan antrian tadi.
Di sinilah si kuning itu macam nggak terima. Dia bilang dia duluan. NAH.. si mamak ini macam dapat ruang untuk meledak. "Kau jual ikan aku beli kontan" Si mamak mulai jawab, "Ohw, Anda merasa duluan? Bukannya tadi Anda serobot Antrian?"
Si kuning mulai gugup kan, trus bilang, "Saya dari tadi di situ tuh" –jarinya nunjukin posisi awal dia untuk membela diri, tapi tubuh ga bisa bohong kan, yang ditunjuk tuh arahnya di luar antrian. Ini malah ngebuktiin kalau dia salah.
Si mamak bilang sama si kuning dengan nada rendah tapi volume kencang dengan gestur tenang (ya dong, marah juga perlu elegan, pikir si mamak, haha): "Anda itu tadi langsung nyempilin anak di depan saya. Makanya saya pindah antrian. Kalau sekarang saya yang didahulukan Kasir kenapa Anda yang komplain?"
Lega, deh. Si mamak tuh pernah beberapa kali melihat hal-hal yang nggak kind di ruang publik. Pelakunya nggak melulu buibu. Si mamak juga pernah kok nyemprot bapak-bapak.
Si mamak ini juga nggak cerewet untuk ikut campur urusan orang, tapi ketika etika ruang publik itu kemudian beririsan dengan boundaries si mamak.. macam urusan antri ini... Owh, tunggu dulu Ferguso!