Di pagi yang tampak tenang itu, air seperti kaca—memantulkan langit biru dan ingatan yang belum selesai.
Kapal besar berlabuh diam, tubuhnya menyimpan kisah pelaut, doa-doa yang pernah diucap di tengah badai, dan arah yang dulu ditentukan oleh bintang. Tiangnya menjulang, bukan untuk berlayar hari ini, melainkan untuk mengingatkan: ada masa ketika keberanian berarti berangkat tanpa kepastian.
Di sisi lain, perahu kecil melaju pelan, meninggalkan riak tipis di belakangnya. Dua orang duduk berdampingan, tak tergesa. Mereka tak membawa peta besar, hanya tujuan sederhana—menyeberang. Mesin kecil berdengung lirih, seperti napas yang dijaga agar tetap sadar.
Di kejauhan, gedung-gedung berdiri tegak, simbol waktu kini: cepat, tinggi, dan penuh layar. Namun air di antara mereka menyatukan segalanya—masa lalu, masa kini, dan niat yang sedang bergerak.
Pagi itu tidak menawarkan jawaban besar. Ia hanya mengajukan satu bisikan halus:
kadang hidup bukan soal kapal megah atau perahu sederhana,
melainkan keberanian untuk tetap bergerak,
tenang,
sadar,
dan setia pada arah hati (intuisi).