Hadir
Ia duduk di tepi kolam, air yang dingin dan tenang. Dari luar, semuanya tampak sederhana—sepasang kaki, lantai merah, air jernih. Tak ada yang istimewa. Setidaknya begitu yang terlihat.
Di hadapannya ada satu pertanyaan:“Apa yang tidak terlihat olehku?”
Ia tersenyum kecil. Pertanyaan itu terasa seperti bercermin, tapi tanpa bayangan. Selama ini ia mengira sudah melihat segalanya: kerja keras, lelah yang ditahan, keputusan yang diambil dengan kepala tegak. Ia melihat proses, kegagalan, jatuh-bangun. Namun air di kolam itu memantulkan sesuatu yang lain—ketenangan yang tak pernah ia akui.
Satu kata sederhana:“Sukses.”
Ia terdiam.Bukan gemuruh tepuk tangan. Bukan pencapaian yang diumumkan. Bukan validasi dari luar.
Sukses itu ternyata sedang duduk bersamanya di tepi kolam. Dalam napas yang akhirnya melambat. Dalam keberanian untuk berhenti sejenak tanpa rasa bersalah. Dalam kesadaran bahwa ia masih ada—utuh—meski tak sedang berlari.
Yang tidak terlihat olehnya selama ini bukanlah tujuan di depan, melainkan jarak yang telah ia tempuh.
Air beriak pelan saat kakinya bergerak.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya ke mana harus pergi. Ia hanya hadir. Dan itu—tanpa ia sadari—adalah bentuk sukses yang paling sunyi, namun paling jujur.
4
0 comments
Samuel Adi Nugroho
3
Hadir
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by