Awal Perjalanan
Pagi itu bandara belum sepenuhnya bangun.
Langit masih ragu antara gelap dan terang, seperti seseorang yang berdiri di ambang keputusan besar.
Pesawat terbang terparkir tenang, bukan lelah—hanya menunggu.
Tangga besi berdiri kaku di sisi gedung, seolah menjadi saksi ribuan langkah yang pernah naik dengan harapan berbeda-beda: pulang, pergi, melarikan diri, atau menemukan diri sendiri.
Di balik kaca jendela, seseorang duduk diam.
Bukan karena takut terbang, melainkan karena sedang mendengar sesuatu yang jarang didengar di tempat seperti ini:
dirinya sendiri.
Mesin belum menyala.
Namun di dalam dada, ada pergerakan halus—seperti roda yang mulai berputar pelan.
Ia sadar, perjalanan tidak selalu dimulai saat pesawat lepas landas,
kadang dimulai jauh sebelumnya, saat kita berani berhenti sejenak.
Garis-garis merah di landasan mengingatkan: ada batas, ada arah.
Bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga agar setiap pergerakan tetap sadar.
Saat matahari akhirnya menyentuh badan pesawat, cahaya memantul lembut.
Bukan gemerlap.
Hanya cukup untuk berkata: waktunya.
Dan ketika pengumuman boarding terdengar,
ia tersenyum kecil.
Bukan karena tahu ke mana ia akan tiba,
melainkan karena ia tahu:
kali ini, ia benar-benar hadir di setiap langkah perjalanan.
2
0 comments
Samuel Adi Nugroho
3
Awal Perjalanan
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by