Masa lalu itu bagiku ibarat permen Nano-Nano yang rame rasanya. Ya orang-orangnya, ya kisah atau peristiwanya. Ada momen yang berjalan mulus, ada juga yang berat.
Ada sosok-sosok yang menghadirkan luka dan membuatku paham rasanya kecewa, ada pula yang hadir seperti gula-gula penuh warna tapi manisnya menyesatkan dan memaksaku belajar artinya ditinggalkan. Semua itu membentuk caraku melihat hidup hari ini.
Apa yang pahit belum tentu bikin sakit, dan apa yang manis kadang justru bikin nangis. Seolah, tidak ada formula yang pas untuk menakar "rasa" kehidupan.
Oleh karenanya, aku berterima kasih pada semua yang sudah terjadi di belakangku. Bukan karena semuanya indah, tapi karena semuanya nyata.
Aku juga berterima kasih pada orang-orang yang hadir tanpa rencana. Mereka datang tidak selalu dengan peran besar. Sebagian hanya lewat, sebagian tinggal lebih lama.
Tapi kehadiran mereka memberi ruang.
Ruang untuk bernapas.
Ruang untuk merasa aman.
Ruang untuk menjadi diriku sendiri tanpa harus menjelaskan segalanya.
Aku berterima kasih pada diriku sendiri.
Untuk memilih bertahan saat hati ingin menyerah.
Untuk tetap berjalan meski sering ragu.
Untuk terus memilih sadar, walau lelah.
Untuk terus memilih hidup, walau sempat ingin mati.
Aku tidak selalu benar, tapi aku tetap melangkah.
Dan itu cukup.