Batas
Di tepi sebuah meja, jeruk itu berhenti—seolah memilih diam di batas.
Kulitnya oranye terang, bulat sempurna, namun ia tidak berada di tengah. Ia berada pinggir seolah sudah memilih tempatnya, tempat di mana satu gerakan kecil bisa menjatuhkannya. Dua daun hijau masih menempel, seperti sepasang tangan yang belum rela melepaskan masa lalu. Batangnya condong ke atas, rapuh tapi berani, menantang keseimbangan.
Tak ada yang tahu berapa lama ia di sana. Mungkin baru saja diletakkan. Mungkin sudah lama menunggu. Yang jelas, jeruk itu tidak tergesa. Ia paham: hidup bukan soal aman di tengah, tapi berani sadar di ambang.
Cahaya menyentuh kulitnya dengan lembut, mempertegas kontras—gelap di belakang, terang di depan. Seperti perjalanan manusia: bayangan selalu ada, namun rasa manis hanya muncul saat kita matang dan hadir sepenuhnya.
Jeruk itu tidak takut jatuh. Ia tahu, bahkan jika jatuh dan pecah, aromanya akan menyebar. Dan bukankah itu juga bentuk memberi?
Di tepi itu, jeruk mengajarkan satu hal sederhana: kadang, keseimbangan bukan tentang bertahan, melainkan tentang percaya pada momen selanjutnya. 🍊🌿
5
3 comments
Samuel Adi Nugroho
3
Batas
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by